Menjelang pergantian tahun, dunia dihebohkan dengan sikap presiden Amerika Serikat Donald Trump mengakui sekaligus mendeklarasikan bahwa yerusalem adalah ibukota Israel dan pemindahan Kedubes AS dari Tel Aviv ke Yerusalem. Berdasarkan berbagai sumber bahwa yang melatar belakangi keputusan Trump terhadap yerusalem adalah janji politiknya terhadap yahudi Amerika. Hal ini telah disampaikan pada saat kampanye sebagai calon presiden dalam pemilihan beberapa waktu yang lalu. Selain itu secara hukum positif AS pemindahan kedubes AS ke Palestina merupakan amanat Undang-Undang Kedutaan Yerusalem yang disepakati Kongres AS tahun 1995 lalu.

Namun seperti diketahui, dunia mengecam pernyataan sepihak AS tersebut termasuk Indonesia. Sebagai negara yang berdaulat, Indonesia menentang keras sikap AS di bawah komando Donald Trump atas yerusalem. Secara historis Indonesia di bawah kepemimpinan Bung Karno merupakan salah satu negara yang mengakui dan mendukung kemerdekaan Palestina dari penjajahan Israel. Bahkan pada tahun 1950 Soekarno-Hatta menolak delegasi perdamaian dari Israel meskipun dijanjikan akan diakui kedaulatan Indonesia secara penuh. Selain itu, pada tahun 1955 Bung Karno menentang keras keikutsertaan Israel dalam Konferensi Asia Afrika (KAA), sebaliknya Palestina ikut hadir dalam KAA yang digelar  di Bandung itu. Tidak hanya itu, Bung Karno bahkan dengan lantang menentang kepesertaan Israel  di Asian Game. Hal itu ditunjukannya dengan tidak mengundang Israel di Asian Game tahun 1962 di Jakarta.Pada tahun yang sama Bung Karno dalam Pidatonya dengan lantang menyatakan “selama kemerdekaan bangsa Palestina belum diserahkan kepada orang-orang Palestina, maka selama itulah bangsa Indonesia berdiri menantang penjajahan Israel.” Langkah Bung Karno ini tidak terlepas dari komitmen bangsa Indonesia sebagaimana terkristalisasi dalam pembukaan UUD NRI 1945. Bahwa kemerdekaan merupakan hak segala bangsa. Komitmen inilah yang ingin diwujudkan Bung Karno bahwa Palestina juga berhak atas kemerdekaan dari segala penjajahan.

Melihat sikap Presiden Jokowidodo terhadap keputusan AS yang mendeklarasikan Yerusalem sebagai ibukota Israel tidak terlepas catatan sejarah warisan Bung Karno sekaligus implementasi tujuan Nasional Republik Indonesia. Seperti banyak diberitakan Presiden Jokowidodo ditemani ibu negara menghadiri Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) luar biasa Organisasi Kerjasama Islam (OKI) yang berlangsung di Istanbul, Turki. Dalam kesempatan ini Presiden kebanggaan bangsa Indonesia tersebut mengajak negara OKI, bulatkan tekad mendukung Palestina dan menentang pernyataan sepihak Donald Trump yang menurutnya memicu konflik antar negara (dunia). Langkah ini tentu selaras dengan rekaman sejarah Bangsa Indonesia yang dikomandoi langsung Bung Karno untuk memperjuangkan kemerdekaan bangsa Palestina dengan berdiplomasi antar negara. Sikap responsif Presiden Jokowi terhadap Palestina bentuk konsistensi dan komitmen bangsa Indonesia akan kemerdekaan bangsa Palestina. Ketegasan ini seakan memutar kembali sejarah emas bangsa Indonesia dalam kancah dunia.

ALLAHUAKBAR…….. MERDEKA !!!