Kemacetan Kota Malang sudah semakin menjadi-jadi. Bahkan survei salah satu lembaga menempatkan kota pendidikan ini menjadi daerah termacet urutan ke empat dari Bangkok, Jakarta dan Bandung.

Aktifitas kendaraan yang padat di berbagai titik seperti Jalan Ahmad Yani, Jalan Soekarno – Hatta, Jalan MT Haryono serta beberapa titik lainnya makin tak terelakkan utamanya pada akhir minggu. Kemacetan akan berdampak signifikan pada laju pertumbuhan ekonomi karena membuat para investor tidak lagi melirik Kota Malang sebagai lokasi untuk menanamkan modalnya.

Jika kita melihat tren kemacetan, maka tidak saja terjadi di Kota Malang, namun di beberapa daerah juga utamanya ibu kota Jakarta juga mengalami hal yang sama. Artinya problematika kemacetan merupakan masalah bersama yang harus dipecahkan oleh semua komponen baik pemegang kebijakan hingga masyarakat.

Menganalisa Kemacetan di Kota Malang bisa kita tinjuau dari beberapa hal. Pertama, kawasan kota ini terletak pada jalan poros, sehingga kendaraan dari berbagai daerah yang hendak menuju Kota Surabaya dan sebaliknya, dari Surabaya mengarah ke kawasan selatan melintasi Kota Malang. Hal ini tentu membuat aktifitas lalu lalang kendaraan menjadi padat setiap harinya.

Kedua, Kota Malang terletak di tengah antara dua kawasan yang kini jadi objek wisata yakni Kota Batu dan Kabupaten Malang. Hal itu menyebabkan kondisi carut marut kendaraan utamanya pada ‘week end’ menjadi lebih padat dari biasanya. Kendaraan terus mengalir menuju tempat wisata Kota Batu juga Pantai Selatan di Kabupaten Malang, sedang poros jalan yang dilalui di dalam kota hanya dua arah yakni jalan tengah kota dari arah Balearjosari ke Jalan Ahmad Yani yang menuju ke arah selatan serta dari Arah Balearjosari ke Jalan Panji suroso ke arah selatan dan sebaliknya.

Lalu bagaimana mengatasi kemacetan jalan yang sudah makin menjadi-jadi di Kota Malang saat ini. Ada beberapa gagasan dan ide. Pertama, pemerintah dan seluruh jajaran harus ikut aktif dalam percepatan Jalan Tol Malang – Pandaan (Mapan) yang menjadi alternatif solusi untuk memecah kendaraan yang masuk ke Kota Malang melalui kawasan Balearjosari.

Kedua, harus ada solusi alternatif ke arah Kota Batu sehingga kendaraan yang akan ke kota wisata itu tidak melintas di tengah kota sehingga terjadi penumpukan kendaraan. Akan tetapi kita juga bisa mengamati perkembangan kota besar seperti Jakarta yang banyak memiliki jalan tol sebagai solusi. Karena itu perlu beberapa hal untuk dikaji bersama baik tataran eksekutif maupun legislatif.

Ketiga adalah pemecahan tempat bisnis dan hiburan agar tidak terpusat pada satu titik. Seperti kita tahu sebagai kota wisata dan industri, kawasan hiburan dan bisnis merupakan magnet baik bagi wisatawan maupub pebisnis untuk datang ke area tersebut. Pemecahan itu sangat diperlukan, karena selain memecah kemacetan juga upaya melakukan pemerataan ekonomi.

Keempat, diperlukan pembatasan jumlah kendaraan secara masal baik roda dua atau roda empat dengan aturan dan perundangan yang jelas dan tegas. Kita tahu bahwa jumlah kendaraan terus meningkat setiap tahunnya, dan luas jalan di Kota Malang tidak pernah bertambah. Jika tidak ada pembatasan kendaraan, ditambah dengan pelebaran jalan yang kurang, maka kemacetan akan menjadi hal yang masif di segala titik penjuru Kota Malang.

Kelima, diperlukan angkutan umum yang layak, nyaman, aman dan murah untuk masyarakat, sehingga hal itu mampu mengurangi pemakaian kendaraan pribadi yang merupakan salah satu penyebab kemacetan. Hal ini juga bisa menjadi solusi terkait benturan kepentingan antara angkutan online dan konvensional yang pada akhirnya juga merugikan bukan hanya para penumpang akan tetapi juga berimbas pada sektor ekonomi.

Keenam, Adanya ketegasan dan kemauan bersama antara para pengambil kebijakan, pengusaha dan para pekerja untuk mengatur waktu jam masuk dan pulang kerja, sehingga pada jam-jam tertentu tidak terjadi kemacetan.

Ketujuh, dengan mengurangi jumlah kendaraan secara masal maka diperlukan solusi sebagai pengganti pendapatan dari sektor pajak kendaraan yg secara riil terdata per-tahunnya.

Kedelapan, pemberian skill akan petugas dadakan pengatur lalu lintas yang berada di beberapa titik. Karena, keberadaan petugas dadakan yang tanpa skill dan kemampuan mengatur lalu lintas itu justru makin membuat jalanan macet. Karena itu saya memberikan saran agar para petugas dadakan itu perlu memiliki skill dan legalitas yang jelas serta ada jaminan akan keselamatan kerja mereka, karena bagaimanapun dalam situasi sekarang ini saya melihat masih ada masyarakat kita yang peduli dan mau beraktifitas ikut andil membantu mengatur dan mengurai kemacetan arus lalin.

Semoga ide dan gagasan ini bisa menjadi solusi bersama dalam mengatasi kemacetan di Kota Malang yang saya kira sudah cukup memprihatinkan dan perlu segera ada solusi.

Salam Satu Jiwa!

*Penulis adalah Ketua DPRD Kota Malang sekaligus Sekertaris DPC PDI Perjuangan Kota Malang

Sumber : http://politikamalang.com/kemacetan-kota-malang-dan-solusi-mengatasinya/